|
Thursday, 29 May 2008 |
|
Tahun 2008 belum genap sebulan, namun tren alihfungsi lahan dan penebangan kayu di beberapa wilayah di Indonesia sudah menunjukkan peningkatan. Jika tahun 2007 disebut-sebut sebagai tahun kegagalan penegakkan hukum lingkungan, dengan dua kasus yang cukup menarik perhatian publik yaitu pembebasan Adelin Lis dan penolakan gugatan Walhi atas Newmont dan Lapindo, sepertinya tahun ini ketidakadilan lingkungan akan semakin marak. Untuk tahun 2008 saja, Departemen Kehutanan telah menetapkan jatah tebang kayu di hutan Kalimantan Timur sebanyak 2,425 juta meter kubik, yakni 75.000 meter kubik lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut merupakan 27% dari jatah nasional sebanyak 9,1 juta meter kubik kayu. Dengan jumlah tebangan sebanyak itu laju kehancuran hutan diperkirakan 350.000 Ha – 500.000 Ha setiap tahun. Padahal kemampuan menanam kembali hanya 30.000 Ha pertahun.
|
|
Last Updated ( Friday, 13 June 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 29 May 2008 |
|
Bencana lingkungan terus terjadi di negeri ini. Di penghujung tahun 2007, sejumlah wilayah di Indonesia terendam banjir. Tidak dapat dipungkiri jika penggundulan hutan menjadi penyebab banjir. Laju penggundulan hutan juga mempercepat degradasi daerah aliran sungai menjadi lahan kritis. Dengan demikian tidaklah berlebih jika ada yang mengatakan banjir dan tanah longsor merupakan konsekuensi logis dari ulah manusia. Setelah membanjiri sebagian wilayah Solo, Bengawan Solo merendam Bojonegoro. Daerah lain di Jawa Timur yang terendam adalah Madiun, Ponorogo dan Malang. Walhi Jawa Timur menyatakan banjir yang melanda daerah di Jawa Timur diduga karena penggundulan hutan dan terbakarnya beberapa kawasan hutan yang dikelola perhutani. Di Jambi, pemerintah propinsi setempat menetapkan status siaga satu banjir setelah permukaan air sungai Batanghari, Jambi, naik menjadi 13,86 meter akibat peningkatan curah hujan dua pekan terakhir. Banjir juga merendam Kota Taliwang di Sumbawa Barat, dan 11 desa di Nias, Sumatera Utara.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 10 June 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
Thursday, 29 May 2008 |
|
Konferensi PBB mengenai perubahan iklim atau UNFCCC yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, sejak 4 Desember lalu kini telah usai. Perundingan yang menghabiskan dana Rp 115 Miliar, bagi beberapa pihak tidak memuaskan. WWF (World Wildlife Fund) menyesali hasil dari konferensi karena gagal memutuskan target pengurangan emisi sesuai dengan ambisi semula, yaitu pemangkasan emisi karbon-karbon negara maju 25%-40% di bawah angka emisi tahun 1990 pada tahun 2020 nanti. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Greenpeace dan puluhan LSM yang tergabung dalam Civil Society Forum (CSF) yang menyesalkan sikap delegasi dari seluruh dunia yang ternyata tidak dapat berbuat banyak untuk kelangsungan bumi. Sementara itu, Kementerian Negara Lingkungan Hidup menyebut keseluruhan hasil konferensi memuaskan. REDD, skema penurunan emisi melalui pencegahan deforestasi dan degradasi menjadi satu di antara 25 keputusan sidang yang disahkan. Hasil dari UNFCCC yang disebut sebagai Peta Jalan Bali (Bali Road Map), disepakati pada 15 Desember pukul 15.15 Wita, mundur 23 jam dari waktu yang telah ditetapkan.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 10 June 2008 )
|
|
Read more...
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>
|
| Results 33 - 40 of 53 |