HomeG-HELP & MKFFPublikasiReferensiAgendaKegiatanKoleksi BukuHubungi KamiSite

Tahukah Anda?

Indonesia menempati urutan ke tiga setelah India dan China untuk jumlah penderita TBC terbanyak (1,5 juta pada tahun 2003). (undp.or.id)

Foto Studi Halimun

Hello, you either have JavaScript turned off or an old version of Macromedia's Flash Player. Get the latest flash player.

Foto Kegiatan MKFF

Kalender Kegiatan

« < September 2010 > »
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday65
mod_vvisit_counterYesterday79
mod_vvisit_counterThis week144
mod_vvisit_counterThis month555
mod_vvisit_counterAll93647

Pendapat Anda

Who's Online

We have 7 guests online

Home arrow Artikel arrow Factsheet arrow Mengupas Peran Laki-laki pada Keluarga Berencana
Mengupas Peran Laki-laki pada Keluarga Berencana PDF Print E-mail
User Rating: / 2
PoorBest 
Thursday, 04 September 2008

Fakta menunjukkan bahwa di Indonesia partisipasi laki-laki dalam kesehatan reproduksi masih sangat rendah. Survey  Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 menunjukkan bahwa penggunaan kondom dan sterilisasi pada laki-laki  hanya 1,3%. Artinya, jika di rata-rata maka dari 100.000 orang laki-laki di Indonesia hanya sekitar 2 orang yang terlibat dalam Keluarga Berencana (KB). Sedangkan survey yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan UI (PPK UI, 2002) di 4 provinsi  memperlihatkan adanya kesenjangan gender yang sangat besar pada partisipasi laki-laki dalam KB, di mana lebih dari 61% adalah perempuan dan hanya 3% laki-laki.

Keterlibatan Laki-laki adalah Kunci

Memiliki anak bukan hanya tanggung jawab perempuan, tetapi juga peran yang harus dimainkan oleh laki-laki. Karena  laki-laki adalah partner, ayah, suami, kakak, pengambil keputusan, anggota masyarakat, dan pemimpin spiritual dalam melindungi kesehatan perempuan. Feminisasi dari pandemi AIDS sesungguhnya telah mengingatkan masyarakat dunia bahwa di banyak tempat perempuan tidak memiliki kekuatan untuk melindungi kesehatannya sendiri. Hal ini disebabkan  laki-laki  menggunakan kekuatan yang sangat besar pada banyak aspek kehidupan perempuan. Perempuan pun tidak dapat mencapai kesetaraan gender dalam kesehatan seksual dan reproduksi tanpa kerjasama dan partisipasi laki-laki.

Oleh karena itu, untuk melindungi hak-hak  reproduksi perempuan, termasuk  keinginan untuk hamil atau tidak,  sangat tergantung pada dukungan pasangannya. Target MDGs untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) hingga 75% pada 2015 pun tidak akan tercapai jika laki-laki tidak terlibat.

Mengapa Laki-laki Kurang Terlibat?

Penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa banyak laki-laki ingin terlibat dalam upaya-upaya kesetaraan gender pada program-program kesehatan reproduksi. Mereka pun juga peduli pada kesehatan dirinya dan pasangan seksualnya. Pada dukungan yang paling kecil, banyak laki-laki yang berkeinginan untuk menentang kebiasaan dan praktek-praktek yang membahayakan kesehatan perempuan. Ketika diberikan dukungan dan disediakan kesempatan, tak sedikit dari mereka  yang mencari pelayanan kesehatan reproduksi. Hal yang menggembirakan, laki-laki pun berkeinginan untuk berpartisipasi dalam memberikan keputusan yang mendukung untuk kesehatan seksual dan reproduksi.

Namun demikian, UNFPA menyatakan bahwa terbatasnya komitmen politik dan rendahnya pengertian tentang kesehatan seksual dan reproduksi laki-laki menjadi penghalang utama untuk melibatkan laki-laki  dalam program-program kesehatan reproduksi. Hal ini disebabkan pada masa lalu, studi kependudukan hampir selalu difokuskan pada perempuan, terutama pada fertilitas dan reproduksinya. Akibatnya, sangat sedikit pelayanan kesehatan reproduksi dan program-program yang langsung menyentuh kebutuhan khusus dan perspektif laki-laki. Kondisi itu, misalnya terlihat dari terbatasnya jenis kontrasepsi yang menjadi pilihan untuk laki-laki, yaitu hanya 2 jenis (kondom dan vasektomi). Dari penelitian terungkap bahwa Keterbatasan tersebut seringkali menjadi alasan utama yang dikemukakan oleh laki-laki mengapa kesertaannya dalam KB rendah. Temuan beberapa penelitian di lapangan juga menunjukkan bahwa banyak laki-laki yang mengharapkan adanya alternatif kontrasepsi lain bagi laki-laki, seperti pil, suntik, dan sebagainya.

Selain itu, pengetahuan laki-laki tentang KB yang rendah dan anggapan bahwa KB adalah urusan perempuan juga menjadi penghambat hal tersebut. Survey yang dilakukan PPK UI (2002) menegaskan adanya kesenjangan pengetahuan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, Laki-laki responden yang tidak menggunakan konstrasepsi beranggapan bahwa kontrasepsi adalah urusan istri.

Dengan demikian, sangat diperlukan penguatan keterlibatan laki-laki dalam KB.  Program-program  yang berperspektif laki-laki sangat ditunggu oleh masyarakat. Melalui peningkatan keterlibatan laki-laki pada KB maka akan berbanding lurus dengan  kepedulian laki-laki terhadap hak-hak kesehatan reproduksi perempuan. Pada akhirnya, hal tersebut akan menjadi langkah penerus untuk mencapai tujuan dari Convention on the Elimination of all forms of Discrimination Against Women (CEDAW) 1979 yaitu  menghapuskan segala bentuk kekerasan pada perempuan. (Nurul HA)

 

Untuk mendapatkan dokumen factsheet lebih lengkap dapat di download -disini-

 

Last Updated ( Tuesday, 25 November 2008 )
 
< Prev   Next >
© 2010 Welcome to G-HELP [Gender, Health and Environmental Linkages Program] 'site
Gender Health Environmental Linkages Program Themes Modifier : Arafat Patria.