|
Ketika kita membicarakan ketidaksetaraan gender (gender equity) ada baiknya tidak hanya melihat bagaimana kesetaraan gender itu telah membuat perempuan termarginalkan. Tapi juga kekuatan apa yang membuat posisi perempuan sampai pada kondisi yang tidak setara. Media massa merupakan satu di antara agen sosialisasi yang sangat berpengaruh dalam mengkonstruksi dan merekonstruksi peran gender. Dengan kata lain, media massa turut ambil bagian dalam memarginalkan perempuan. Sikap perempuan terhadap sesama perempuan, laki-laki terhadap perempuan, perempuan terhadap laki-laki atau laki-laki terhadap sesama laki-laki secara disadari atau tidak dipengaruhi oleh media massa.
Namun, citra yang dibangun oleh media massa dalam merepresentasikan perempuan lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Seperti yang diungkapkan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono “Perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang lemah, mudah dikuasai dan diekploitasi”. Ia menyayangkan hal ini karena media mempunyai andil besar dalam membentuk opini dan perilaku sosial yang membuat posisi perempuan semakin tersubordinasi. Penayangan citra perempuan yang negatif, seperti lemah dan terlalu bergantungan pada laki-laki, secara berulang-ulang dan terus-menurus akan semakin mengukuhkan pandangan orang bahwa perempuan memang lemah, dan orang lemah tidak bisa jadi pemimpin. Jadi tidak heran, walaupun telah ada kuota 30% untuk keterwakilan politik perempuan, dan pada tingkat partai kouta ini telah dipenuhi, tetapi pada saat pemilihan berlangsung jumlah perempuan yang berhasil duduk di parlemen tidak pernah mencapai 30%. Posisi tawar perempuan yang rendah dalam kasus KDRT, hak buruh perempuan yang sering tereksploitasi di tempat kerja atau ketidakpercayaan publik akan pemimpin perempuan adalah imbas dari pencitraan perempuan yang negatif. Perempuan seringkali menjadi tokoh sentral dalam sebuah sinetron, tapi dominasi peran perempuan selalu dieksploitasi dengan sosok yang negatif dan tidak rasional. Setidaknya hal itu terungkap dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Pembangunan Nasional (UPN), bahwa dalam sinetron perempuan cenderung ditampilkan dalam stereotype tradisional, dengan sedikit profesi dan bergantung pada laki-laki. Sumber: - Sinetron Indonesia Bias Gender, Media Indonesia, 6 November 2007
- Potret Buram Perempuan Lebih Banyak Disoroti, Media Indonesia, 14 Februari 2008
|