|
 www.bkkbn.go.id Perbedaan peran gender yang diberikan oleh masyarakat kepada perempuan dan laki-laki berdampak pada kehidupan sehari-hari. Ketidaksetaraan gender yang disebabkan karena adanya peran gender telah menghalangi perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Studi kasus di beberapa negara menunjukkan adanya ketidaksetaraan gender dalam pelayanan kesehatan. Contohnya dalam penanganan malaria. Di kebanyakan negara, laki-laki diasumsikan lebih banyak menderita malaria dibandingkan perempuan karena yang menjadi pasien malaria di klinik mayoritas adalah laki-laki. Faktanya penelitian di sebuah daerah di Thailand menyatakan jika angka kedapatan, infeksi dan sakit antara laki-laki, perempuan dan anak-anak adalah sama. Hanya saja perempuan enggan mendatangi klinik karena kendala waktu, mobilitas dan hambatan sosial lainnya (Sims, 2004). Peran gender telah menghalangi perempuan untuk mendapat pengobatan malaria. Oleh karena itu, menyediakan pelayanan bergerak (klinik mobil) merupakan cara yang efektif untuk memberikan perawatan terhadap perempuan yang menderita malaria.
Di Bangladesh, tingkat kematian ibu diperkirakan mencapai 550 per 100.000 kelahiran. Angka kematian ibu (AKI) tinggi disebabkan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Faktor lain yang mempengaruhi adalah ketidaksetaraan gender yang mencakup kekurangan nutrisi, tidak adanya akses ke pelayanan kesehatan primer yang tersedia bagi laki-laki dan kekerasan terhadap perempuan baik di rumah ataupun di masyarakat. Sekitar 25 persen kematian perempuan di Bangladesh disebabkan karena perannya sebagai ibu (Daftar Periksa Gender ADB,_). Sama halnya dengan Bangladesh, ketidaksetaraan gender terhadap akses pelayanan kesehatan juga menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia. Seperti dikutip dari situs BKKBN, “AKI tinggi tidak hanya disebabkan faktor-faktor kesehatan seperti perdarahan, eklamsia, infeksi, persalinan macet dan komplikasi, faktor sosial budaya juga berpengaruh pada angka kematian ibu melahirkan. Misalnya, perlakuan bias gender terhadap perempuan, sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang memadai juga status dan posisi perempuan yang rendah baik dalam keluarga dan masyarakat yang menyebabkan perempuan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan yang menyangkut perencanaan kehamilan.” Mitos yang berkaitan dengan keluarga berencana (KB) seperti perempuan dianggap tabu untuk meminta suami memakai kondom sehingga yang harus menggunakan alat kontrasepsi adalah perempuan, turut menghalangi perempuan untuk mendapatkan akses kesehatan yang memadai. Ketimpangan kekuasaan antara perempuan dan laki-laki dalam hal reproduksi seringkali membuat perempuan tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan tanpa persetujuan laki-laki. Ketidaksetaraan gender telah mengakibatkan perempuan penderita malaria di beberapa negara tidak dapat mengakses pengobatan, menyebabkan tingginya angka kematian ibu di Bangladesh dan Indonesia serta membuat sebagian perempuan tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan sistem reproduksinya. Sumber: - Technical Paper Gender and Health. 1998. World Health Organization - Daftar Periksa (Check List) Gender: Kesehatan. Asian Developing Bank - http://www.bkkbn.go.id/gemapria/article-detail.php?artid=67
|